Stunting, kondisi gagal tumbuh kembang anak akibat kurang gizi kronis, kini ditetapkan sebagai salah satu isu darurat nasional yang memerlukan penanganan lintas sektor. Lingkungan sekolah, dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Dasar (SD), menjadi lokasi strategis untuk melakukan Intervensi Gizi terarah dan berkelanjutan. Intervensi Gizi yang tidak hanya mencakup pemberian makanan tambahan, tetapi juga edukasi komprehensif kepada siswa dan orang tua. Keberhasilan dalam melaksanakan Intervensi Gizi ini adalah kunci untuk menciptakan generasi yang sehat dan cerdas, yang pada akhirnya memiliki potensi penuh untuk meraih Kemandirian Finansial di masa depan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengumumkan target ambisius untuk menurunkan angka prevalensi stunting di bawah 14% pada akhir tahun 2024. Untuk mendukung target ini, Kemenkes meluncurkan program “Sekolah Sehat Generasi Emas” yang fokus pada suplementasi tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri dan pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis protein hewani untuk siswa SD di daerah dengan prevalensi tinggi. Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes, Ibu Dr. Risa Amalia, M.Gizi., menekankan bahwa program ini telah diuji coba di 500 sekolah prioritas sejak 1 Agustus 2024. “TTD wajib diminum setiap minggu oleh remaja putri untuk mencegah anemia, yang merupakan faktor risiko utama stunting pada generasi berikutnya,” jelas Dr. Risa dalam lokakarya kesehatan sekolah pada hari Selasa, 24 September 2024.
Selain suplementasi, Intervensi Gizi di sekolah juga diwujudkan melalui edukasi. Guru dan petugas Puskesmas bekerja sama dalam mengajarkan prinsip “Isi Piringku” dan pentingnya konsumsi sumber protein lokal. Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) setempat, Ir. Tri Wibowo, M.Sc., menyatakan bahwa kantin sekolah kini wajib menyajikan menu yang memenuhi standar gizi tertentu, melarang penjualan makanan instan tinggi garam dan gula, efektif mulai 1 Oktober 2024. “Perubahan kebiasaan makan harus dimulai dari lingkungan sekolah,” kata Ir. Tri.
Aspek pengawasan distribusi PMT dan TTD juga diperketat untuk mencegah penyimpangan. Pihak kepolisian sektor, melalui Bhabinkamtibmas, turut mengawasi proses penyaluran bantuan gizi ke sekolah-sekolah di pelosok. Aiptu Siti Nurmala, seorang Bhabinkamtibmas yang bertugas di wilayah pegunungan, menyatakan pada hari Rabu, 25 September 2024, pukul 09.00 WIB, bahwa ia memastikan logistik gizi tiba tepat waktu dan dalam kondisi baik, seringkali dengan melewati medan yang sulit. “Bantuan gizi ini adalah hak anak-anak. Kami pastikan tidak ada kebocoran atau penyelewengan di tingkat distribusi,” tegas Aiptu Siti. Komitmen terhadap Intervensi Gizi sejak dini di lingkungan sekolah merupakan upaya fundamental dalam membangun fondasi kesehatan bangsa. Dengan pertumbuhan fisik dan kognitif yang optimal, generasi muda memiliki bekal maksimal untuk bersaing, berinovasi, dan pada akhirnya, mencapai Kemandirian Finansial yang diidamkan.
