Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) seharusnya menjadi tempat di mana wakil rakyat berdiskusi dan mengambil keputusan demi kesejahteraan bangsa. Namun, ironisnya, seringkali tempat ini berubah menjadi panggung yang mempertontonkan drama tak berkelas. Aksi adu argumen yang berujung pada keributan bukanlah hal baru, hingga akhirnya kita melihat DPR ricuh.
Masyarakat merasa kecewa. Seharusnya, para anggota dewan memberikan contoh yang baik dalam berdemokrasi. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka seolah melupakan etika dan norma yang seharusnya dijunjung tinggi. Sikap-sikap yang menunjukkan ini membuat kepercayaan publik semakin menurun.
Keributan di ruang sidang menunjukkan adanya kegagalan dalam proses dialog. Masing-masing pihak lebih mementingkan ego dan kepentingan kelompoknya. Mereka lupa bahwa tugas utama mereka adalah mewakili suara rakyat. Ketika DPR ricuh, suara rakyat seolah tenggelam dalam kebisingan.
Banyak yang menyamakan suasana di DPR dengan arena gladiator. Di mana para politikus saling menyerang, bukan dengan pedang, melainkan dengan kata-kata kasar dan emosi yang meledak-ledak. Pertunjukan DPR ricuh ini tidak mencerminkan kebijaksanaan, melainkan pertunjukan kekuasaan yang dangkal.
Sangat disayangkan, ketika ada banyak isu penting yang harus dibahas, seperti ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, justru energi mereka habis untuk keributan yang tidak produktif. Keributan ini menghambat proses legislasi dan merugikan rakyat. DPR ricuh adalah kerugian besar bagi bangsa.
Penting bagi kita untuk terus mengawasi kinerja para wakil rakyat. Kita harus menuntut mereka untuk kembali ke tujuan awal mereka, yaitu mengabdi kepada negara. Perilaku yang tidak profesional seperti DPR ricuh tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kita berhak mendapatkan perwakilan yang lebih baik.
Para anggota dewan harus segera berbenah diri. Mereka perlu belajar untuk menghormati perbedaan pendapat dan berdialog secara konstruktif. Ruang sidang adalah tempat untuk mencari solusi, bukan untuk adu kekuatan. Keributan ini harus segera diakhiri. Jika DPR ricuh terus, negara yang akan rugi.
Sudah saatnya Gedung DPR kembali menjadi Gedung Rakyat. Tempat di mana aspirasi publik diperjuangkan dengan penuh dedikasi dan akal sehat. Bukan lagi arena gladiator yang hanya mempertontonkan drama politik. Kita berharap DPR ricuh tidak akan terulang lagi.
