Sebuah peristiwa pencurian dengan nilai kerugian yang cukup fantastis kembali terjadi di wilayah Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Sebuah bangunan yang ditinggalkan pemiliknya dalam keadaan tidak berpenghuni menjadi sasaran empuk kawanan perampok. Dalam insiden yang menimpa sebuah Rumah Kosong di Agam tersebut, dilaporkan uang tunai sejumlah ratusan juta rupiah beserta perhiasan emas berharga raib digondol pencuri. Pemilik rumah yang baru saja kembali dari perjalanan luar kota terkejut melihat pintu belakang rumahnya sudah dalam kondisi rusak dicongkel dengan benda tumpul, dan seluruh isi kamar berantakan akibat digeledah pelaku.
Kejadian yang menyasar Rumah Kosong di Agam ini diduga dilakukan oleh pelaku yang sudah memantau aktivitas korban selama beberapa hari. Pelaku tampaknya mengetahui bahwa rumah tersebut akan ditinggalkan dalam waktu lama tanpa adanya penjagaan yang ketat. Minimnya fasilitas keamanan seperti kamera pengawas (CCTV) atau sistem alarm di rumah tersebut memudahkan para pelaku untuk beraksi dengan tenang tanpa takut terdeteksi. Pihak kepolisian yang menerima laporan segera melakukan olah TKP dan menyisir kemungkinan adanya sidik jari pelaku yang tertinggal di lemari atau gagang pintu yang menjadi akses masuk utama.
Pihak kepolisian dari Polres Agam mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama saat hendak meninggalkan hunian dalam waktu yang lama. Kasus pencurian di Rumah Kosong di Agam sering kali meningkat pada musim liburan atau akhir pekan. Sangat disarankan bagi warga untuk menitipkan pengawasan rumah kepada tetangga terpercaya atau ketua RT setempat. Selain itu, penggunaan teknologi kunci ganda pintar dan lampu otomatis yang bisa menyala pada malam hari sangat membantu memberikan kesan bahwa rumah tersebut tetap dihuni, sehingga bisa mengurungkan niat jahat dari para pengincar properti kosong.
Hingga saat ini, tim penyidik masih melakukan pengembangan kasus dan memeriksa beberapa orang saksi guna mengungkap siapa di balik pencurian di Rumah Kosong di Agam tersebut. Polisi menduga pelaku merupakan kelompok spesialis yang sering beroperasi antar-kabupaten. Masyarakat diminta untuk tidak menyimpan uang tunai dalam jumlah besar di dalam rumah, melainkan lebih mengandalkan sistem penyimpanan di perbankan yang jauh lebih aman. Keamanan rumah adalah hal yang tidak bisa ditawar; investasi kecil pada alat keamanan dan komunikasi yang baik dengan lingkungan sekitar bisa mencegah kerugian finansial yang sangat besar di kemudian hari.
